sabar
Ada saat di mana usaha kita tidak mendapatkan penghargaan seperti yang kita harapkan bahkan mungkin mendapat caci maki dari orang lain. Bukanlah sebuah hal yang mengenakan, bukan pula hal yang kita harapkan. Tapi, itu merupakan ujian bagi kita apakah kita akan terus bersabar atau menyerah. Yah, seperti postingan saya sebelumnya tentang SKB, kita berhak untuk menanggapinya positif atau negatif.
Orang bijak tentu akan memilih tetap bersabar. Mencoba lagi dengan cara lain untuk mendapatkan tujuannya, yang tentunya tetap ada di jalan Allah.
Ingatlah saudaraku “Allah bersama orang-orang yang sabar”
SKB (Sistem Kebebasan Bersikap)
Setiap hari kita pasti dihadapkan dengan berbagai masalah. Masalah dengan keluarga, teman dan banyak hal lain. Kita bisa menanggapinya dengan berbagai cara. Bisa marah, menangis, menghadapi dengan bijak atau diam.
Yah, itu semua pilihan kita. Mau positif atau negatif itu adalah pilihan kita dalam menanggapi masalah.
Tapi seperti yang sudah saya bilang, “itu semua pilihan kita”. Apakah kita akan menanggapinya dengan positif? Atau malah negatif?
Hanya Anda yang bisa menentukan…
hikmah mahasiswa tanpa motor
lebih sehat karena jalan kaki
lebih berani karena sering jalan kaki malem-malem sendiri
lebih produktif karena ga punya cewek
*no hard feeling :p
Mc’ D 24122010
Susahnya bikin visi misi sebuah KOKESMA ITB sudah terbukti malam ini. Bukan cuma arah gerak organisasi satu tahun ke depan yang dipikirkan, namun juga usahanya. Bahkan, untuk merangkai kata-katanya harus gonta-ganti berkali-kali. KBBI online, kamus inggris-indonesia online bahkan visi misi kopma universitas lain menjadi rujukan.
Akhirnya setelah lebih dari 6 jam bergumul dengan berjibun ide-ide kreatif didapatkan sebuah visi KOKESMA ITB 1 tahun ke depan:
“KELUARGA PROGRESSIF YANG ANTAR ELEMENNYA SINERGIS UNTUK MEWUJUDKAN KOKESMA YANG OPTIMAL”
Semoga dengan visi ini KOKESMA ITB bisa menjadi lebih baik tahun depan. Amin…
bintang
cinta itu seperti bintang di malam hari
tersebar luas dari ujung barat sampai timur
yang perlu kau lakukan hanyalah membuka pupilmu lebar-lebar
agar cahayanya bisa kau tangkap dengan baik
namun, bintang yang paling bercahaya bukan berarti yang paling terang
everything you need is to feel it
Catatan Anies Baswedan : Di Hari Keberangkatan Pengajar Muda
Di hari keberangkatan Pengajar Muda
Saya jabat satu per satu. Jabat dengan erat. Saya tatap mata mereka. Bening mata kita, ada ambangan air menyerupai cermin. Tak ada banyak kata yang diucap. Hati kitalah yang saling berjawab. Pagi tadi langit masih gelap. Tepat pukul 05.20 Pengajar Muda resmi dilepas di Bandara Soekarno-Hatta.
Di bandara yang membawa nama pahlawan proklamator Indonesia dan di hari saat republik tercinta merayakan Hari Pahlawan. Hari ini Pengajar Muda berangkat. Hari ini usai sudah gemblengan tujuh minggu, gemblengan kepemimpinan dan kepengajaran.
Airport ini dinamai Soekarno-Hatta. Dua tokoh ini sesungguhnya memiliki peluang untuk meniti karier di bidangnya, hidup nyaman, dan sangat sejahtera untuk dirinya dan untuk keluarganya. Tapi mereka memilih untuk berjuang; pembuangan dan penjara bukan halangan. Mereka berjuang membebaskan bangsanya dari kolonialisme. Tanda pahala mereka kini langgeng menempel di setiap jiwa Indonesia.
Pagi ini di bandara yang membawa nama pahlawan inilah para Pengajar Muda meninggalkan kenyamanan kota. Mereka anak-anak usia muda. Mereka cerdas dan berprestasi. Mereka memancarkan potensi kepemimpinan yang solid. Iming-iming material besar yang ada di hadapannya mereka tinggalkan. Mereka tanggalkan pekerjaan mapan mereka, mereka lepaskan peluang kerja bergaji tinggi. Anak-anak muda terbaik ini memilih berangkat ke pelosok Indonesia. Di Hari Pahlawan ini mereka memulai langkah menjadi guru SD di desa-desa terpencil.
Menjadi guru itu mulia. Menjadi guru itu wajar. Dan, adanya guru di pelosok negeri itu biasa. Tetapi kali ini kita melihat fenomena yang berbeda. Anak-anak muda terbaik meninggalkan kemapanan kota, melepaskan peluang karier dan melewatkan semua kenyamanan lalu memilih menjadi guru SD di desa-desa tanpa listrik. Berangkatnya mereka ke desa terpencil untuk mengajar bukanlah sebuah pengorbanan, itu adalah sebuah kehormatan, kata Abah Iwan Abdurrahman. Mereka mendapatkan kehormatan untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.
51 Pengajar Muda ini hadir dan membuat nuansa yang berbeda tentang Indonesia. Sejak Gerakan Indonesia Mengajar diumumkan kita seakan ditunjukan dengan wajah lain tentang anak-anak muda Indonesia. Sejak awal sudah jelas-jelas dinyatakan bahwa program ini akan menempatkan anak-anak muda di pelosok negeri, yang sebagian besar belum terjamah listrik ataupun sinyal telepon selular. Tapi tantangan itu justru dijawab secara kolosal. Ada 1.383 anak muda menyatakan siap untuk jadi guru di daerah terpencil. Mereka menulis essai yang sangat menggugah. Mereka beberkan alasan mengapa mereka siap, sanggup dan ingin sekali menjadi guru di pelosok negeri. Mereka seakan menuliskan: Indonesia, kami ingin mengajar. Kami tertegun !
Selama proses seleksi, dipampangkan di depan kita deretan anak-anak muda Indonesia yang cerdas, tangguh, kreatif, idealis dan ingin berjuang. Mereka membuktikan bahwa republik ini tidak berubah, ibu-ibu di republik ini tetap melahirkan pejuang, ibu kita tetap melahirkan anak-anak promotor kemajuan. Mereka adalah bukti otentiknya. Kami takjub dan tergetar.
51 Pengajar Muda memilih untuk mengabdi di ujung negeri, menjadi guru dan tinggal bersama masyarakat biasa. Rakyat di pelosok sana sudah hapal janji kemerdekaan, tapi kita tak kunjung melunasi janji itu.
Hari ini mereka berangkat. Tidak mudah apa yang akan mereka akan lalui selama satu tahun ke depan, tetapi semua yang sulit sesungguhnya adalah pelajaran hidup. Dan when the going gets tough, the tough gets going; mereka tangguh dan insyaAllah mereka akan lewati dengan kesungguhan. Saya pernah sampaikan, sukses itu sering bukan karena berhasil meraih sesuatu tetapi karena berhasil menyelesaikan dan melampaui tantangan dan kesulitan.
Dan untuk teman-teman Pengajar Muda, hari ini adalah saatnya. Saat meneguhkan niat serta menguatkan kemauan luhur itu. Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi dan berbinar menyaksikan kehadiranmu. Setelah selesai program ini maka label Pengajar Muda akan menempel seumur hidup. Anda kenal dan bagian dari rakyat jelata. Anda pernah hidup bersama mereka di pelosok sana, dan yang terpenting adalah anda sebagai anak-anak muda terbaik ini telah ikut –sekecil apapun- mendorong kemajuan, mengubah masa depan mereka jadi lebih cerah. Jejak kalian di desa-desa terpencil itu akan dicatat dengan pahala, akan ditandai dengan peluk persaudaran dan bersemai di kenangan anak-anak desa hingga generasi mendatang. Kelak, setiap anak-anak desa itu berhasil meraih mimpinya, maka pahala kalian selalu ada didalamnya.
Untuk teman-teman Pengajar Muda tercinta, teguhkan niatmu. Datangilah desa-desa terpencil itu dengan ikhlasan, dengan rendah hati, dengan kesantuan, dengan kasih sayang. Sambutlah kehadiran anak-anak SD itu di kelasmu dengan rasa cinta, belai rambut mereka dengan kasih, tatap wajah polos mereka dengan pancaran senyum dan berikan yang terbaik darimu untuk mereka. Izinkan anak-anak SD di desa-desa terpencil itu berbinar melihatmu, belajar untuk maju darimu, mencintai ilmu darimu dan memandangmu sebagai visualisasi mimpi mereka dan visualisasi mimpi orang tua mereka. Izinkan mereka bermimpi bisa meraih apa-apa yang anda sudah raih. Tebarkan kesabaran, tumbuhkan pengetahuan, dan tanamkan ketangguhan berjuang di dada mereka.
Untuk teman-teman Pengajar Muda tercinta, samudra peluang mengabdi itu ada di hadapanmu. Arungi dengan semangat, arungi dengan optimisme, arungi dengan pengetahuan. Dan kelak kembalilah dengan berderet tanda pahala di pundakmu. Pahala langgeng dan kenangan permanen yang bisa kalian ceritakan sampai pada anak-cucu nanti.
Saya tulis ini semua dengan rasa haru, rasa bahagia, rasa bangga, dan dengan gelora optimisme. InsyaAllah, Indonesia kita akan menjadi lebih baik, lebih maju lewat langkah-langkah kecil ini.
Gema syair lagu Padamu Negeri yang dinyanyikan oleh 51 Pengajar Muda tadi pagi di Bandara Soekarno-Hatta seakan menggema di ruang kerja ini.
Bersyukur sekali, akhirnya di Hari Pahlawan kali ini ditakdirkan menyaksikan dan melepas para pejuang. Di Hari Pahlawan ini, satu langkah kecil diayunkan untuk ikut melunasi sebuah janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga keihklasan selalu menjadi bagian dari ikhtiar ini.
Selamat jalan teman-teman Pengajar Muda. Selamat berjuang . . . .
Padamu negeri kami berjanji . . .
Padamu negeri kami berbakti . . .
Padamu negeri kami mengabdi . . .
Bagimu negeri jiwa raga kami . . .
Salam hangat,
Anies Baswedan
diam
Menurut KBBI, diam adalah tidak bersuara, tidak bergerak, tidak berbuat.
Ada orang yang menganggap diamnya seseorang menunjukkan ketidakberaniannya untuk menyampaikan pendapat. Ada juga yang mengartikan diamnya seseorang menunjukan persetujuan orang terhadap suatu masalah.
Banyak cara orang memaknai diam. Namun, apakah diam itu salah?
Dalam suatu forum, menyampaikan pendapat itu adalah hal yang sudah sangat wajar dan merupakan sebuah keharusan. Namun, ketika terjadi sebuah perdebatan yang sangat alot dan memancing emosi, diam bisa jadi adalah sebuah keputusan yang baik.
Orang yang diam bukan berarti kalah atau kehabisan akal. Namun, ketika kita diam saat itulah kita dapat berpikir dengan lebih jernih. Ketika kita bisa menurunkan ego dan emosi kita.
Bayangkan kalau kita tetap mengikuti emosi, bisa saja kita melukai hati orang lain. Bahkan kita bisa menyebabkan meletusnya perang ketika forum itu adalah forum internasional.
So, tidak ada salahnya untuk diam bukan?